RINDU PADA KICAUAN PAGI
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Kicauan pagi yang ku rindu
kicauan merdumu membuatku terbang dalam indahnya kehidupan
yang membuaku lupa pada hari siang.
Wahai kicauan pagi yang selalu ku nikmati
kini siang sudah kutemui
namun kini, engkau sulit kutemui
saat ku coba bertanya pada embun
hanya sunyi yang menjawab
hingga ku bertanya pada daun yang basah
namun, hanya kekesalan yang ku temui
dan udarapun menyampaikan pesan dari kicauan pagi itu.
Wahai kicauan pagi yang ku rindukan
engkau bersembunyi namun bersuara
mengapa engkau tak pergi bersama dengan siangku
ingin kupeluk engkau dengan rasa rinduku akan hari pagi itu
namun jiwa mengingatkanku, bahwa aku tak lagi bersama dengan hari pagi itu
karena aku telah berada pada hari siang.
hari yang menuntun ku menuju ke hari sore
hingga aku kembali pada hari malamku.
Kamis, 31 Mei 2018
Pada Sebuah Tinta Seni
KEMBALI BERSINAR
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Melalui hari dengan gelap gulita
Menenggelaman kalbu dalam sengsara
Tertutup dalam luka tiada tara
Terhanyut dalam waktu yang begitu lama
Awan gelap menangis
Bulan bintang enggan memperlihatkan wujudnya
Terasa hampah untuk sekian kalinya
Yang tak bisa dapat untuk di mengerti
Detik demi detik kian berlalu
Dengan nada – nada yang terdengar dalam lagu
Mengembalikan hal yang baru
Untuk hidup layaknya sang ratu
Mentari telah dating untuk menunggu
Menunggu hari yang baru menggebuh – gebuh
Lupakanlah gelap yang telah berlalu
Sambut lah mentari untuk kamu.
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Melalui hari dengan gelap gulita
Menenggelaman kalbu dalam sengsara
Tertutup dalam luka tiada tara
Terhanyut dalam waktu yang begitu lama
Awan gelap menangis
Bulan bintang enggan memperlihatkan wujudnya
Terasa hampah untuk sekian kalinya
Yang tak bisa dapat untuk di mengerti
Detik demi detik kian berlalu
Dengan nada – nada yang terdengar dalam lagu
Mengembalikan hal yang baru
Untuk hidup layaknya sang ratu
Mentari telah dating untuk menunggu
Menunggu hari yang baru menggebuh – gebuh
Lupakanlah gelap yang telah berlalu
Sambut lah mentari untuk kamu.
Pada Sebuah Tinta Seni
MALAIKAT DIHIDUPKU
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Malaikat ituLah sebutanMu
Karena hatimu tulus
Merawatku, menjagaku,
Dan membesarkanku.
Kau hanya ada satu,
Dan takkan bisa terganti.
Sebutanmu adalah
"IBU"
Sebutan yang terdengar
Sederhana, namun
Mengartikan seseorang
Yang luar biasa.
Ada dan tiada dirimu
Akan slalu berada
Di Lubuk hatiku...
Sebagai penyemangat,
Dalam hidupku...
Terima kasih Ibu...
Kau adalah
Malaikat dihidupku...
Malaikat yang menerangi
& malaikat yang slalu
Membantu hari - hariku.
TanpaMu aku tak akan
Tahu tentang dunia ini.
Terima kasih takkan
Berhenti aku ucapkan,
Padamu ibu..
Karena, kau adalah
Malaikat dihidupku.
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Malaikat ituLah sebutanMu
Karena hatimu tulus
Merawatku, menjagaku,
Dan membesarkanku.
Kau hanya ada satu,
Dan takkan bisa terganti.
Sebutanmu adalah
"IBU"
Sebutan yang terdengar
Sederhana, namun
Mengartikan seseorang
Yang luar biasa.
Ada dan tiada dirimu
Akan slalu berada
Di Lubuk hatiku...
Sebagai penyemangat,
Dalam hidupku...
Terima kasih Ibu...
Kau adalah
Malaikat dihidupku...
Malaikat yang menerangi
& malaikat yang slalu
Membantu hari - hariku.
TanpaMu aku tak akan
Tahu tentang dunia ini.
Terima kasih takkan
Berhenti aku ucapkan,
Padamu ibu..
Karena, kau adalah
Malaikat dihidupku.
Pada Sebuah Tinta Seni
BOCAH NAKAL
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Ku tatap wajahmu di keremangan malam
Wajah tuamu yang mulai kusam
Kulihat dengan jelas kerut keningmu
Yang dulu tak pernah tampak
Tangan mu yang kuat
Kian lemah seiring usia
Langkah mu yang dulu tegap
Kini rapuh dan membungkuk
Maafkan aku ibu
Di saat semua orang berfikir aku telah dewasa
Aku masih jadi bocah nakal pembuat ulah
Aku masih menyuguhkanmu cerita duka
Yang kelak akan jadi gurauan manja
Kala aku jadi anakmu yang berguna
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Ku tatap wajahmu di keremangan malam
Wajah tuamu yang mulai kusam
Kulihat dengan jelas kerut keningmu
Yang dulu tak pernah tampak
Tangan mu yang kuat
Kian lemah seiring usia
Langkah mu yang dulu tegap
Kini rapuh dan membungkuk
Maafkan aku ibu
Di saat semua orang berfikir aku telah dewasa
Aku masih jadi bocah nakal pembuat ulah
Aku masih menyuguhkanmu cerita duka
Yang kelak akan jadi gurauan manja
Kala aku jadi anakmu yang berguna
Rabu, 30 Mei 2018
Pada Sebuah Tinta Seni
SENANDUNG SYAIR UNTUK IBU
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Bila waktu telah melambai kepadaku
Bila angin memanggil perasaan
Mengajakku tuk bermain kata
Kini tanganku tlah siap
Berdansa dengan pena kecil
Ku mulai merangkai kata-kata
Dan kujadikan senandung untuk ibu
Bersama detik waktu yang berjalan
Yang memutarkan semua kehidupanku
Ku ceritakan semua dalam syair
Tentang cinta
Tentang kasih
Tentang segalanya dari seorang ibu
Ku tuliskan didalam rangkaian syairku
Tentang belaian serta dekapan tangan suci
Dan kuucapkan dalam senandung syairku
Ucapan terimakasih,sayang,dan ma'af ku
Inilah syair yang kutulis untuk mu.
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Bila waktu telah melambai kepadaku
Bila angin memanggil perasaan
Mengajakku tuk bermain kata
Kini tanganku tlah siap
Berdansa dengan pena kecil
Ku mulai merangkai kata-kata
Dan kujadikan senandung untuk ibu
Bersama detik waktu yang berjalan
Yang memutarkan semua kehidupanku
Ku ceritakan semua dalam syair
Tentang cinta
Tentang kasih
Tentang segalanya dari seorang ibu
Ku tuliskan didalam rangkaian syairku
Tentang belaian serta dekapan tangan suci
Dan kuucapkan dalam senandung syairku
Ucapan terimakasih,sayang,dan ma'af ku
Inilah syair yang kutulis untuk mu.
Pada Sebuah Tinta Seni
MENGHAPUS BAYANGMU
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Bayangmu masih terasa hangat
Meski kini kau telah bersanding dengannya
Selalu saja aku mengingat wajahmu
Meski hatimu tak mungkin kumiliki
Berkali kali kusadarkan diri
Ribuan harap coba kutepis
Kamu tak akan pernah kumiliki
Tapi entah mengapa aku selalu mengingatmu
Setiap senyuman
Setiap tatapanmu
Setiap sapaan mu
Selalu berarti buat aku
Aku pun bahagia
Jika itu yang menjadi bahagia mu
Aku pun rela
Asal itu yang menjadi mimpi mu
Sampai hari ini bayangmu masih melekat di dalam hati ku
Aku tak pernah berpikir untuk mencari cinta
Biarlah aku sendiri
Sampai waktu yang kan menghapus semua bayanganmu.
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Bayangmu masih terasa hangat
Meski kini kau telah bersanding dengannya
Selalu saja aku mengingat wajahmu
Meski hatimu tak mungkin kumiliki
Berkali kali kusadarkan diri
Ribuan harap coba kutepis
Kamu tak akan pernah kumiliki
Tapi entah mengapa aku selalu mengingatmu
Setiap senyuman
Setiap tatapanmu
Setiap sapaan mu
Selalu berarti buat aku
Aku pun bahagia
Jika itu yang menjadi bahagia mu
Aku pun rela
Asal itu yang menjadi mimpi mu
Sampai hari ini bayangmu masih melekat di dalam hati ku
Aku tak pernah berpikir untuk mencari cinta
Biarlah aku sendiri
Sampai waktu yang kan menghapus semua bayanganmu.
Selasa, 29 Mei 2018
Pada Sebuah Tinta Seni
DEWI SANG PENABUR KASIH
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Ada lembah bersembunyi di balik bukit
Bukit bersembunyi di balik hutan
Dari kejauhan aku berteriak menjerit
Penuh cemas berbuntut ketakutan
Aku sepi, dingin dan lapar
Bernyanyi lirih lagu-lagu sendu
Dinding hati yang kokoh turut bergetar
Merasa sedih karena lelah menantikanmu
Setelah bertahun-tahun lamanya
Kini telah tiba hari-hari yang ku tunggu
Ini tanganku terbuka lebar untukmu
Kemarilah, datanglah dan mendekatlah padaku
Aku saat ini berlimpahkan alasan-alasan
Untuk memujimu, untuk menyanjungmu
Cukup tepat bila kau pantang terlewatkan
Tuhan itu baik, memilih dirimu dan mengirimnya untukku
Bertanyalah kau kepadaku wahai wanita
Menurutmu Siapakah gerangan aku?
Maka terlontarlah kata mesra yang teramat lembut
Berkatalah, kau tidaklah tercipta untuk seseorang
Melainkan untuk bertakwa pada Tuhan dan menjadi imamku
Kalimatnya terdengar bagai syair dari surga
Kini aku tak ragu dalam kebimbangan
Tepatlah kau si Dewi sang penabur kasih
Hadir sebagai penyempurnaku di alam raya
Seandainya saja ada kata yang lebih mulia dari cinta
Bila saja ada kata yang lebih agung dari sayang
Tentu kaulah yang patut memperolehnya
Kemarilah dan biarkan aku menjadi imammu.
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Ada lembah bersembunyi di balik bukit
Bukit bersembunyi di balik hutan
Dari kejauhan aku berteriak menjerit
Penuh cemas berbuntut ketakutan
Aku sepi, dingin dan lapar
Bernyanyi lirih lagu-lagu sendu
Dinding hati yang kokoh turut bergetar
Merasa sedih karena lelah menantikanmu
Setelah bertahun-tahun lamanya
Kini telah tiba hari-hari yang ku tunggu
Ini tanganku terbuka lebar untukmu
Kemarilah, datanglah dan mendekatlah padaku
Aku saat ini berlimpahkan alasan-alasan
Untuk memujimu, untuk menyanjungmu
Cukup tepat bila kau pantang terlewatkan
Tuhan itu baik, memilih dirimu dan mengirimnya untukku
Bertanyalah kau kepadaku wahai wanita
Menurutmu Siapakah gerangan aku?
Maka terlontarlah kata mesra yang teramat lembut
Berkatalah, kau tidaklah tercipta untuk seseorang
Melainkan untuk bertakwa pada Tuhan dan menjadi imamku
Kalimatnya terdengar bagai syair dari surga
Kini aku tak ragu dalam kebimbangan
Tepatlah kau si Dewi sang penabur kasih
Hadir sebagai penyempurnaku di alam raya
Seandainya saja ada kata yang lebih mulia dari cinta
Bila saja ada kata yang lebih agung dari sayang
Tentu kaulah yang patut memperolehnya
Kemarilah dan biarkan aku menjadi imammu.
Pada Sebuah Tinta Seni
PERMINTAANKU
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Hati ini telah sangat bersalah
Karena telah mendusta cinta kita
Yang telah berlangsung cerah
Kini menjadi gelap gulita
Bumi seakantelah tiada
Matahari tak seperti bersinar
Bunga bunga layu tanpa kata
Dan kicauan burung tanpa nada terdengar
Bumi yang mengasuh ku
Dan langit yang menjaga mu
Pada saat langit dan bumi bersatu
Itu saat cinta kita mulai berpadu
Tapi karena noda baru
Langit dan bumi mulai terpisah
Tak tahu betapa karu
Hati ini sudah tak berarah
Ini semua karena ku
Yang telah berbuat sesuatu
Masalah yang dimulai dari ku
Kini menjadi simponi lagu
Ku ingin semua berhenti berlagu
Dan ku ingin semua berlalu
Hanya satu permintaan ku
Permintaan maaf dari lubuk hatiku
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Hati ini telah sangat bersalah
Karena telah mendusta cinta kita
Yang telah berlangsung cerah
Kini menjadi gelap gulita
Bumi seakantelah tiada
Matahari tak seperti bersinar
Bunga bunga layu tanpa kata
Dan kicauan burung tanpa nada terdengar
Bumi yang mengasuh ku
Dan langit yang menjaga mu
Pada saat langit dan bumi bersatu
Itu saat cinta kita mulai berpadu
Tapi karena noda baru
Langit dan bumi mulai terpisah
Tak tahu betapa karu
Hati ini sudah tak berarah
Ini semua karena ku
Yang telah berbuat sesuatu
Masalah yang dimulai dari ku
Kini menjadi simponi lagu
Ku ingin semua berhenti berlagu
Dan ku ingin semua berlalu
Hanya satu permintaan ku
Permintaan maaf dari lubuk hatiku
Jumat, 25 Mei 2018
Pada Sebuah Tinta Seni
Bintang yang Rindukan Bulan
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Ketika cinta bersemi di antara kita..
Disaat gejolak cinta merasuk kedalam jiwa..
Sering kudengar kalimat indah dari bibirmu...
Slalu kurasa lembutnya cinta kasihmu..
Terlantun bagai simphoni melodi yang indah..
Terlukis bagai goresan pelangi yang sempurna...
Semakin lama semakin kurasa beda..
Kisah cinta yang kini, tak seperti dulu yang indah..
Kurasa kini kau telah berubah..
Dimanakah kamu yang dulu...??
Sikapmu kini tak seperti kau yang dulu..
Kini, sucinya kasihmu tak lagi kurasakan..
Lembutnya belaianmu tak lagi kau berikan...
Pangeranku.. aku rindu..
Aku rindu senyuman yang dulu slalu kau pancarkan..
Pangeranku...
Aku rindu kasih sayangmu yang dulu slalu kau berikan..
Aku rindu kalimat yang dulu slalu kau ucapkan..
Bulan, Kembalikan Pangeranku..
Bintang, Dimanakah Pangeranku video dulu..?
Peri - peri, Kuingin Dia kembali...
Pangeran Bulanku, Aku rindu sosokmu yang dulu...
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Ketika cinta bersemi di antara kita..
Disaat gejolak cinta merasuk kedalam jiwa..
Sering kudengar kalimat indah dari bibirmu...
Slalu kurasa lembutnya cinta kasihmu..
Terlantun bagai simphoni melodi yang indah..
Terlukis bagai goresan pelangi yang sempurna...
Semakin lama semakin kurasa beda..
Kisah cinta yang kini, tak seperti dulu yang indah..
Kurasa kini kau telah berubah..
Dimanakah kamu yang dulu...??
Sikapmu kini tak seperti kau yang dulu..
Kini, sucinya kasihmu tak lagi kurasakan..
Lembutnya belaianmu tak lagi kau berikan...
Pangeranku.. aku rindu..
Aku rindu senyuman yang dulu slalu kau pancarkan..
Pangeranku...
Aku rindu kasih sayangmu yang dulu slalu kau berikan..
Aku rindu kalimat yang dulu slalu kau ucapkan..
Bulan, Kembalikan Pangeranku..
Bintang, Dimanakah Pangeranku video dulu..?
Peri - peri, Kuingin Dia kembali...
Pangeran Bulanku, Aku rindu sosokmu yang dulu...
Senin, 21 Mei 2018
Pada Sebuah Tinta Seni
Terkadang berfikir apakah belajar harus pergi bersekolah..?
Apakah mencari pengetahuan harus duduk didepan papan tulis..?
Tentu tidak.
Semua itu hanya jembatan dan perantara..!
.
.
Ari Kurnia Oktavian
Apakah mencari pengetahuan harus duduk didepan papan tulis..?
Tentu tidak.
Semua itu hanya jembatan dan perantara..!
.
.
Ari Kurnia Oktavian
Pada Sebuah Tinta Seni
"Upayakan apapun dengan baik dan jujur agar mendapat kepercayaan. Karena kepercayaan jauh lebih berharga daripada sekedar pujian."
.
.
(Ari Kurnia Oktavian)
.
.
(Ari Kurnia Oktavian)
Pada Sebuah Tinta Seni
"Kekecewaan adalah cara Tuhan tuk mengatakan: Bersabarlah, Aku punya sesuatu yg lebih baik untukmu."
.
.
(Ari Kurnia Oktavian)
.
.
(Ari Kurnia Oktavian)
Pada Sebuah Tinta Seni
"Buat hidupmu sempurna, dengan membuat orang disekitarmu bahagia. Dan percayalah akan ada banyak cinta yg datang menghampiri."
.
.
.
(Ari Kurnia Oktavian)
.
.
.
(Ari Kurnia Oktavian)
Jumat, 11 Mei 2018
Pada Sebuah Tinta Seni
Usai
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Ragaku terhempas lepas dilempar angin.
Melayang tinggi tiada batas akhir.
Diatas langit,kulihat cercah cahaya membelah awan
Berjuta pasang mata hujani bumi
Apa yg terjadi ?
Pelukanku tiada lagi erat.
Bola matamu tiada bisa ku palingkan.
Sejuk hembus nafasmu buatku kan jauh terbang.
Makhluk bersayap menuntun langkahku.
Menuju kedamaian, ragaku dibalut kain suci
Tersungkur dalam peristirahatan abadi.
Kini bulu mataku kan menutup dan akan terbuka.
Ketika sang pencipta memintanya.
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Ragaku terhempas lepas dilempar angin.
Melayang tinggi tiada batas akhir.
Diatas langit,kulihat cercah cahaya membelah awan
Berjuta pasang mata hujani bumi
Apa yg terjadi ?
Pelukanku tiada lagi erat.
Bola matamu tiada bisa ku palingkan.
Sejuk hembus nafasmu buatku kan jauh terbang.
Makhluk bersayap menuntun langkahku.
Menuju kedamaian, ragaku dibalut kain suci
Tersungkur dalam peristirahatan abadi.
Kini bulu mataku kan menutup dan akan terbuka.
Ketika sang pencipta memintanya.
Belum Ada Judul
CEMBURUKU
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Kami memang sering bertengkar
Sering beradu mulut saat kami berbincang
Selepas orang tua kami sudah tiada,semua hancur
Semua hancur,seakan tak ada lagi kasih dan sayang yang ku dapatkan
Engkau pergi pagi dan selalu pulang larut malam
Siapa lagi yang bisa Aku sayangi disini?
Sementara engkau,hanya sibuk dengan pekerjaanmu
Aku cemburu,sangat cemburu pada pekerjaanmu
Aku ingn berubah,menjadi manusia yang lebih baik lagi
Kita hanya tinggal berdua,kita harus menjaga dan menyayangi satu sama lain
Hey! Aku ini Adikmu,bukankah kau seharusnya memperdulikanku?
Bukankah kau seharusnya menyayangiku layaknya seorang Kakak yang menyayangi Adiknya?
Cemburuku mungkin adalah sebuah kicauan burung di Pagi Hari
Yang selalu kau hiraukan karena kau benci
Tapi,coba kau dengar dan rasakan,ada makna tersembunyi dibalik itu semua
Ya! Aku ingin,Aku ingin diperdulikan dan selalu kau anggap penting seperti pekerjaanmu
Dan,Aku ingin kau menyayangiku seperti Aku menyayanyimu
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Kami memang sering bertengkar
Sering beradu mulut saat kami berbincang
Selepas orang tua kami sudah tiada,semua hancur
Semua hancur,seakan tak ada lagi kasih dan sayang yang ku dapatkan
Engkau pergi pagi dan selalu pulang larut malam
Siapa lagi yang bisa Aku sayangi disini?
Sementara engkau,hanya sibuk dengan pekerjaanmu
Aku cemburu,sangat cemburu pada pekerjaanmu
Aku ingn berubah,menjadi manusia yang lebih baik lagi
Kita hanya tinggal berdua,kita harus menjaga dan menyayangi satu sama lain
Hey! Aku ini Adikmu,bukankah kau seharusnya memperdulikanku?
Bukankah kau seharusnya menyayangiku layaknya seorang Kakak yang menyayangi Adiknya?
Cemburuku mungkin adalah sebuah kicauan burung di Pagi Hari
Yang selalu kau hiraukan karena kau benci
Tapi,coba kau dengar dan rasakan,ada makna tersembunyi dibalik itu semua
Ya! Aku ingin,Aku ingin diperdulikan dan selalu kau anggap penting seperti pekerjaanmu
Dan,Aku ingin kau menyayangiku seperti Aku menyayanyimu
Kamis, 10 Mei 2018
Pada Sebuah Tinta Seni
GARIS CAKRAWALA
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Disini...
Menatap garis cakrawala
Mengingatkanku pada bencana dunia
Banjir...
Longsor....
Gunung gunung yang meletus
Menyemburkan lahar panasnya
Apa yang terjadi ...
Apakah tuhan murka pada kita
Bukankah kita lupa bersyukur
Aku takut....
Pemanasan global ?
Atau ini tanda kiamat kecil
Bukankah ini sudah mendekati pada akhir zaman
Wahai mahluk tuhan
Pada akhirnya imanmu akan di pertanyakan
Untuk itu tetaplah pada jalannya
Karna garis cakrawala tidak akan pernah lurus.
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Disini...
Menatap garis cakrawala
Mengingatkanku pada bencana dunia
Banjir...
Longsor....
Gunung gunung yang meletus
Menyemburkan lahar panasnya
Apa yang terjadi ...
Apakah tuhan murka pada kita
Bukankah kita lupa bersyukur
Aku takut....
Pemanasan global ?
Atau ini tanda kiamat kecil
Bukankah ini sudah mendekati pada akhir zaman
Wahai mahluk tuhan
Pada akhirnya imanmu akan di pertanyakan
Untuk itu tetaplah pada jalannya
Karna garis cakrawala tidak akan pernah lurus.
Pada Sebuah Tinta Seni
AKU INGIN
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Andai kau sesosok perempuan dengan keperdulian tinggi
Aku ingin bercerita, dan kuharap kau tertawa bahagia
Aku baru saja menyeduh sebuah kopi
Menyeruputnya secara perlahan
Menahan rasa dan kehangatannya dalam-dalam
Hingga aku lupa, ini tepat dua belas malam
Saatnya hari berganti
Saatnya kantuk menghampiri
Seperti hari yang berganti
Dari sikapmu yang tidak perduli
Berharap menjadi lebih baik hati
Kepada sesama, terutama yang tulus mencintai
Mencintai segala kekurangan, dan segala ketidakperdulianmu
Aku ingin
Sekarang hari sudah berganti
Saatnya raga ini melelapkan diri
Melanjutkan hari demi hari
Untuk satu alasan yang tidak pasti
Yakni mencintai tanpa belum tentu dicintai
Sekarang tertawalah
Aku cuma bisa berharap kau selalu bahagia
Dan semoga tidak ada karma nanti
Untukmu,
Untuk ketidakperdulianmu
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Andai kau sesosok perempuan dengan keperdulian tinggi
Aku ingin bercerita, dan kuharap kau tertawa bahagia
Aku baru saja menyeduh sebuah kopi
Menyeruputnya secara perlahan
Menahan rasa dan kehangatannya dalam-dalam
Hingga aku lupa, ini tepat dua belas malam
Saatnya hari berganti
Saatnya kantuk menghampiri
Seperti hari yang berganti
Dari sikapmu yang tidak perduli
Berharap menjadi lebih baik hati
Kepada sesama, terutama yang tulus mencintai
Mencintai segala kekurangan, dan segala ketidakperdulianmu
Aku ingin
Sekarang hari sudah berganti
Saatnya raga ini melelapkan diri
Melanjutkan hari demi hari
Untuk satu alasan yang tidak pasti
Yakni mencintai tanpa belum tentu dicintai
Sekarang tertawalah
Aku cuma bisa berharap kau selalu bahagia
Dan semoga tidak ada karma nanti
Untukmu,
Untuk ketidakperdulianmu
Rabu, 09 Mei 2018
Pada Sebuah Tinta Seni
Sajak Buku
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Buku...
Kau adalah sumber ilmu
Dimana aku belajar dan membaca
Dari aku tak tahu sampai tahu
Buku...
Kau adalah jendela ilmu
Jendela menuju kehidupan yg lebih sukses
Menuju kehidupan yg lebih indah
Halaman demi halaman
Lembar demi lembar
Kubaca dengan serius
Hingga aku lupa waktu
Terimakasih buku
Engkau tamani aku
Dari kecil hingga besar
Tuk menggapai cita-citaku
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Buku...
Kau adalah sumber ilmu
Dimana aku belajar dan membaca
Dari aku tak tahu sampai tahu
Buku...
Kau adalah jendela ilmu
Jendela menuju kehidupan yg lebih sukses
Menuju kehidupan yg lebih indah
Halaman demi halaman
Lembar demi lembar
Kubaca dengan serius
Hingga aku lupa waktu
Terimakasih buku
Engkau tamani aku
Dari kecil hingga besar
Tuk menggapai cita-citaku
Pada Sebuah Tinta Seni
Sajak Tangan Jail dan Air Tawar
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Aroma busuk melingkupi hidup.
Sempitkan paru-paru.
Tinggalkan bisu.
Arus sebarkan cemar.
Lalat terbang riang.
Hinggapi ikan-ikan yg terkapar.
Gemercik hitam menampar pemukiman.
Atap terkubur ditelan lumpur
Hujan semalam
Buahkan lautan.
Balon-balon mengapung, antarkan pembasmi lapar.
Berjerit hati mengasakan musibah surut.
Ditengah-tengah negara yg sedang carut marut.
Oleh Ari Kurnia Oktavian
Aroma busuk melingkupi hidup.
Sempitkan paru-paru.
Tinggalkan bisu.
Arus sebarkan cemar.
Lalat terbang riang.
Hinggapi ikan-ikan yg terkapar.
Gemercik hitam menampar pemukiman.
Atap terkubur ditelan lumpur
Hujan semalam
Buahkan lautan.
Balon-balon mengapung, antarkan pembasmi lapar.
Berjerit hati mengasakan musibah surut.
Ditengah-tengah negara yg sedang carut marut.
Senin, 07 Mei 2018
Pada Sebuah Tinta Seni
Rindumu bukan Milikku Lagi
Oleh : Ari Kurnia Oktavian
Meski...
Rindumu bukan milikku
Namu hatiku selalu menyimpan rindu.
Memujamu tidak lagi nyata.
Ingin kulupakan tapi tak bisa.
Maafkan aku...
Bila tak sanggup lagi menemanimu.
Harus berdiri diatas janjimu.
Lelah lebih terpatri ingkar.
Hargailah pilihanku...
Meninggalkanmu bukanlah dosa.
Tapi semua hanya demi satu kata.
Yaitu BAHAGIA.
Terimakasih atas segala cintamu.
Walau kini rindumu bukan milikku lagi.
Senyummu bukan untukku.
Bersamamu aku pernah bahagia.
Oleh : Ari Kurnia Oktavian
Meski...
Rindumu bukan milikku
Namu hatiku selalu menyimpan rindu.
Memujamu tidak lagi nyata.
Ingin kulupakan tapi tak bisa.
Maafkan aku...
Bila tak sanggup lagi menemanimu.
Harus berdiri diatas janjimu.
Lelah lebih terpatri ingkar.
Hargailah pilihanku...
Meninggalkanmu bukanlah dosa.
Tapi semua hanya demi satu kata.
Yaitu BAHAGIA.
Terimakasih atas segala cintamu.
Walau kini rindumu bukan milikku lagi.
Senyummu bukan untukku.
Bersamamu aku pernah bahagia.
Selasa, 01 Mei 2018
Pada Sebuah Tinta Seni
"AKU DAN AIR MATA"
Oleh Ari Kurnia Oktavian
-----------------
Dari Melihatmu.
Kaulah sosok yg ku cari
Yang ku idamkan di setiap mimpi tidurku.
Yang membuatku ingin tak melepasmu.
Dari pandanganku.
Kau tampan,baik hati,dan bijaksana
Yang selalu menjadi idaman para kaum
Yang selalu ingin dimiliki oleh banyaknya wanita
Begitu juga dengan diriku.
Namun, aku berhenti sejenak
Sehilir angin telah mengingatkanku
Untuk berkaca dan berangan
Siapakah diriku ?
Apa alasan aku mengaguminya ?
Tak kuasa ku menahan dan akhirnya menetes juga derai air mata
Derai air mata yg ingin selalu memndangnya
Derai air mata yg ingin tak melepasnya
Derai air mata yg mengantarkan bahwa diri ini tak pantas untuknya.
Hanya dapat mendoakan dalam heningnya malam
Disertai tetesan air mata
Yg seolah memohon ingin memilikinya
Yg seolah memohon untuk dapat menjaganya dari jauh"
.
.
.
Wattpad : arikurniaoktvn_
Blogger : blogarikurniaoktavian.blogspot.com
Oleh Ari Kurnia Oktavian
-----------------
Dari Melihatmu.
Kaulah sosok yg ku cari
Yang ku idamkan di setiap mimpi tidurku.
Yang membuatku ingin tak melepasmu.
Dari pandanganku.
Kau tampan,baik hati,dan bijaksana
Yang selalu menjadi idaman para kaum
Yang selalu ingin dimiliki oleh banyaknya wanita
Begitu juga dengan diriku.
Namun, aku berhenti sejenak
Sehilir angin telah mengingatkanku
Untuk berkaca dan berangan
Siapakah diriku ?
Apa alasan aku mengaguminya ?
Tak kuasa ku menahan dan akhirnya menetes juga derai air mata
Derai air mata yg ingin selalu memndangnya
Derai air mata yg ingin tak melepasnya
Derai air mata yg mengantarkan bahwa diri ini tak pantas untuknya.
Hanya dapat mendoakan dalam heningnya malam
Disertai tetesan air mata
Yg seolah memohon ingin memilikinya
Yg seolah memohon untuk dapat menjaganya dari jauh"
.
.
.
Wattpad : arikurniaoktvn_
Blogger : blogarikurniaoktavian.blogspot.com
Langganan:
Komentar (Atom)
Di sini Masih Di Hati
Hanya saja aku masih mengusahakannya. Berusaha menyelematkan perasaanku sendiri. Setelah remuk redam dihantam perasaan. Entah berapa lama ak...
Belum Ada Judul
-
Jadi Kakak Paling Baik, Ini 4 Zodiak yang Paling Dewasa! Jika kamu punya banyak teman, kamu pasti bisa membedakan mana yang punya sifa...
-
Bukit Barade, Spot Baru Melihat Sunrise di Borobudur Mengenalkan salah satu bukit di Magelang yang wajib banget di sambangi. Namanya adalah...
-
SEKOLAH Kala pagi embun yang bening. Berpalut dengan ramai dan terkadang sunyi. Jam beker tak ayal bosan memandang rupaku...
-
Usai Oleh Ari Kurnia Oktavian Ragaku terhempas lepas dilempar angin. Melayang tinggi tiada batas akhir. Diatas langit,kulihat cercah c...
-
Inilah Binatang Pembawa Pesan Kiamat Ad-dabbah Kiamat merupakan kepastian yang akan dialami oleh alam semesta. Tidak hanya agama...
-
MENANTI HADIRMU Oleh Ari Kurnia Oktavian Kubiarkan jemariku menari Diatas lembaran kertas putih Melukis namamu dengan teliti Merangkai...
-
Cintaku padamu bukanlah tulisan diatas pasir. Yang dengan mudahnya tersapu ombak dibibir pantai. Serta menghilang tanpa sisakan bekas. ...
-
PERIHAL PERASAAN Oleh Ari Kurnia Oktavian Pada sunyi malam sosokmu terus membayangiku Kuterka gambar wajahmu yang terlintas dibenakku K...
-
Tidak perlu mematikan cahaya orang lain. Hanya demi membuat dirimu bercahaya sendiri. Pribadi yg baik adalah bercahaya dimanapun kau bera...
-
Hujan tak pernah menyalahkan keadaan, tetapi banyak orang yg menyalahkan Hujan. sejatinya suara Hujan ialah suara alam yg terdengar Indah....