Minggu, 03 Juni 2018

Pada Sebuah Tinta Seni

KEKASIH HATIKU
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Tidaklah aku menjual jiwaku kepada cinta hingga aku menjadi budak dan menjadi persembahan kekeliruan penterjemahan hati
Melainkan cinta yang menyapamu di kala kegemerlapan alam memayungi para pemalsu cinta dan engkau hanya menyanyikan senandung pujian dan kerinduan.
Karna itulah aku menyapamu kekasih.
Karna saat bersamamu aku tak perlu lagi bertanya dalam diriku, Apakah ini cinta ?
Apakah dia mencintaiku dengan seluruh kasih dan menjaganya dengan segenggam setia ?
Inilah pesona yang aku taburkan di danau yang tak berarus, menunggu keabadian memetikkan senar - senar kehidupan yang getarannya menggetarkan cahaya dan menyinari malam
Lalu kau datang hanya dengan sebaris senyuman memaknai rangkaian rahasia dan menyingkapnya dalam syair-syair prosa cinta lalu kau siratkan kemuliaanmu terhadap cinta dan kasih sayang.
Lalu aku bertanya pada diriku, dapatkah aku bertahan pada cinta yang begitu indah ini, sementara engkau telah membatasiku dalam satu titik masa yang akan menutup kisah kita lalu kau ukirkan dalam satu ayat kitab keabadian
Lalu akupun menunggu dan menikmati hari-hari bersamamu, dibawah 7 bintang kasih sayang melalui 7 musim cinta.
Inilah cinta tak tergantikan karna hatiku telah menyimpul mati kasih ini, membiarkan 7 musim itu berlalu dan memetik bahagianya.
Kemudian aku membingkai kisah ini di hatiku lalu menutup mataku yang lelah karna kaupun menyandarkan kepalamu di dadaku, membisikan syair-syair ketulusan dan perpisahan
Itulah saat dimana tiada percakapan kita karna cinta telah menjadi bahasa kita
Aku hanya memelukmu ,membelai rambut indahmu dan sesekali menghapus air matamu.
Itulah senyuman terindah yang pernah engkau kecupkan di hatiku
Selamat tinggal kekasih hatiku ..

Di sini Masih Di Hati

Hanya saja aku masih mengusahakannya. Berusaha menyelematkan perasaanku sendiri. Setelah remuk redam dihantam perasaan. Entah berapa lama ak...

Belum Ada Judul