Selasa, 05 Juni 2018

Pada Sebuah Tinta Seni

Cinta Ayah
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Sikapnya memang keras

Sikapnya memang tegas

Sikapnya memang kolot

Bahkan semuanya tampak buruk di mataku



Tapi hati ini tidak bisa bohong

Hati ini bagaikan lonceng

Yang ketika di ketuk akan bergetar

Bergetar sampai ke hati yang penuh prasangka



Prasangka yang membuat kebencian

Prasangka yang membuat dendam

Prasangka yang akan membuat diam

Diam dalam murka dan kemarahan



Dan ketika lonceng itu di bunyikan

Semuanya akan terlihat jelas

Tidak lagi samar - samar

Tidak lagi dipenuhi bayangan hitam

Karena yang ada kini hanya perasaan cinta.

Pada Sebuah Tinta Seni

Minggu, 03 Juni 2018

Pada Sebuah Tinta Seni

PENYESALAN
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Aku menyesal....
Menyesali perbuatanku waktu itu....
Aku sangat bodoh
Kenapa dia yang terluka?
Terluka karena ku

Aku tak akan memaafkan diriku
Jika dia masih berlinang air mata
Karena kebodohanku
Aku akan membenci diriku
Jika dia tak mau bertemu denganku
Karena kesalahanku

Aku rela dicampakkan
Aku rela disakiti
Aku rela terluka
Demi dia
Dia harus bahagia
Walau aku harus aku yang terluka

Namun....
Semua terlambat
Dia tlah pergi
Entah kemana

Kini...
Aku sendiri
Sendiri dan sepi
Sepi tanpa dia
Hanya bayangannya yang tertinggal
Hanya raut wajahnya yang terlintas
Hanya senyumannya yang tak akan sirna dimakan waktu

Jika aku bisa meminta
Aku hanya ingin dia kembali
Kembali bersamaku
Aku berjanji
Tak akan ada airmata lagi
Tapi semua itu hanya angan
Angan itu akan menjadi penyesalan
Penyesalan akan yang sudah lalu.

Pada Sebuah Tinta Seni

HASRAT MERENGKUH-MU
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Indah kuasa-Mu ... Tuhan
Seraya merentangkan
Bahasa kasih yang tiada terhingga

Maafkan aku
Yang sering meninggalkan-Mu
dalam hidmat konserto bhakti ...
dan runduk khusuk sembahyang

Kini kusadari
Menampak hidup hanya menghamparkan
Noktah –noktah dosa
Mencabik indahnya mahligai taqwa

Tuhan..
Masih mungkinkah, - hadir dan melihat indah beranda syurga
Meski tak pantas- tak kuasa
Namun ku ingin- damai merengkuh kalimat suci-Mu
Saat ajal menjemputku
Aamiin.

Pada Sebuah Tinta Seni

KU INGIN SEPERTIMU (KARTINI)
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Aku...
Siapa Aku?
Aku?
Aku adalah sosok yang terobsesi akan Kartini
Sosok pahlawan Bangsa
Pahlawan bagi kaum Hawa
Yang menjunjung derajat wanita Indonesia
Mensama ratakan hak dengan kaum pria
Raden Ajeng Kartini ...
aku bangga akan cita-citamu
Aku kagum akan tekad dan semangatmu
Aku ingin sepertimu
Yang mempunyai cita-cita mulia
Berjuang demi pendidikan
Untuk memajukan bangsa Indonesia
Wahai kartini ……
Apakah aku bisa sepertimu...?
Apakah aku bisa?
Apakah aku bisa?
Apakah aku bisa?
Tapi pada siapa aku bertanya
Pada siapa aku bercermin
Untuk melihat jati diriku
Agar dapat menggapai cita - citaku
Aku ingin seperti mu “KARTINI”.

Pada Sebuah Tinta Seni

KEKASIH HATIKU
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Tidaklah aku menjual jiwaku kepada cinta hingga aku menjadi budak dan menjadi persembahan kekeliruan penterjemahan hati
Melainkan cinta yang menyapamu di kala kegemerlapan alam memayungi para pemalsu cinta dan engkau hanya menyanyikan senandung pujian dan kerinduan.
Karna itulah aku menyapamu kekasih.
Karna saat bersamamu aku tak perlu lagi bertanya dalam diriku, Apakah ini cinta ?
Apakah dia mencintaiku dengan seluruh kasih dan menjaganya dengan segenggam setia ?
Inilah pesona yang aku taburkan di danau yang tak berarus, menunggu keabadian memetikkan senar - senar kehidupan yang getarannya menggetarkan cahaya dan menyinari malam
Lalu kau datang hanya dengan sebaris senyuman memaknai rangkaian rahasia dan menyingkapnya dalam syair-syair prosa cinta lalu kau siratkan kemuliaanmu terhadap cinta dan kasih sayang.
Lalu aku bertanya pada diriku, dapatkah aku bertahan pada cinta yang begitu indah ini, sementara engkau telah membatasiku dalam satu titik masa yang akan menutup kisah kita lalu kau ukirkan dalam satu ayat kitab keabadian
Lalu akupun menunggu dan menikmati hari-hari bersamamu, dibawah 7 bintang kasih sayang melalui 7 musim cinta.
Inilah cinta tak tergantikan karna hatiku telah menyimpul mati kasih ini, membiarkan 7 musim itu berlalu dan memetik bahagianya.
Kemudian aku membingkai kisah ini di hatiku lalu menutup mataku yang lelah karna kaupun menyandarkan kepalamu di dadaku, membisikan syair-syair ketulusan dan perpisahan
Itulah saat dimana tiada percakapan kita karna cinta telah menjadi bahasa kita
Aku hanya memelukmu ,membelai rambut indahmu dan sesekali menghapus air matamu.
Itulah senyuman terindah yang pernah engkau kecupkan di hatiku
Selamat tinggal kekasih hatiku ..

Pada Sebuah Tinta Seni

PENANTIAN
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Dingin serasa menguliti penantianku
Dulu dalam kelam kau pernah menabur janji
Bila malam akan kau tepati
Selarut sunyi tak jua kau berempati

Kemana kau yang selama ini berparas jelita?
Apakah kau telah tenggelam didasar samudera?

Aku masih terdiam disini menatap wajah senja
dengan penuh tanya;
akankah penantianku ini berujung sia-sia,
atau berakhir bahagia?

Hanya seucap kata yang mungkin bisa meyakinkan
Bahwa kau pantas diberi keyakinan
Kau tak akan biarkan aku larut dalam penantian
Hingga kau katakan : untukku kebahagiaan.

Pada Sebuah Tinta Seni

Senja Yang Indah
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Keemasan cahaya di cakrawala
Di ufuk barat saat hari mulai senja..
Terbelalak mata saat memandangnya
Keindahan dari sang maha pencipta..

Sang surya bersiap untuk tenggelam
Menjemput mesra ketenangan malam..
Meneguk cahaya dalam-dalam
Menyempurnakan keindahan malam..

Lembayung indah tampak kekuningan
Gradasi warna bagaikan lukisan..
Di sudut langit yang tipis berawan

  • Hiasan terbesar sepanjang zaman..

Pada Sebuah Tinta Seni

HUJAN SAHABATKU
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Hujan seberapa mengerti kau akan rasa diri ini
Kau selalu menemani dikala ku terpekur sendiri
Kau selalu berbagi curahan air mata hati dikala ku menangis dalam sepi

Ketika ku termenung sendiri
Kau datang menenangkan jiwa ini
Dengan suara gemericik mu yang deras namun sunyi
Kau hapuskan air mata ini dengan sentuhanmu yang penuh nurani

Tetes air yang membanjiri
Membasahi rasa sakit yang baru saja ku alami
Membasuh luka ku yang segera ingin ku sudahi
Aku menangis lirih dibawah rintik deras air ini

Hingga tiada yang tau
Aku berduka untuk Teman- Teman yang tak mengerti sakitku
Tetes air mata ini terhapus deras hujan yang mengguyur tubuhku
Aku kuyup dan lega dalam basah bersamaan hujan.

Sabtu, 02 Juni 2018

Pada Sebuah Tinta Seni

MENGAPA KAU KEMBALI

Kopiku kini menjadi dingin
Sama seperti sikapmu

Kopiku kini menjadi basi
Sama seperti ucap janjimu

Sapamu tak sehangat dulu
Kini terasa hambar ditelingaku

Tatapan itu kini bukan lagi milikku
Sebab telah ada yang merebutnya dariku

Genggaman itu juga bukan lagi milikku
Sebab ia berhasil merayumu

Pelukan itu bukan lagi untukku
Sebab sudah ada yang memberikan kenyamanan melebihiku

Kopi yang terseduh tetap akan meninggalkan ampas
Sama seperti kenangan saat bersamamu yang akan selalu membekas

Pada Sebuah Tinta Seni

MENANTI HADIRMU
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Kubiarkan jemariku menari
Diatas lembaran kertas putih
Melukis namamu dengan teliti
Merangkai bait bait puisi dari hati

Ku tuliskan tentangmu dalam bait bait puisi
Jemariku lincah menari dalam alunan sunyi
Sembari berimajinasi hadirmu disini
Temani diri sampai terlelap dalam mimpi

Hingga menunggu tiba waktunya pagi
Aku masih disini dengan hati yang sepi
Merindu hadirmu untuk kembali lagi
Sekedar mengisi hatiku yang kosong ini

Rembulan kini berganti mentari
Saatnya bangun dari indahnya mimpi
Suara burung menyemangati diri
Untuk bertemu dirimu lagi dan lagi

Pada Sebuah Tinta Seni

DIRIMU DAN DUSTAMU
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Kau pernah berdiri tepat dihadapanku
Merayuku dengan kata-kata indahmu
Kau bilang, aku wanita yang teristimewa
Sejenak kau berhasil membuatku bahagia

Dunia seperti milik berdua
Aku, kamu dan Cinta kita
Hingga akhirnya; waktu kembali
membangunkanku dari tidur panjangku

Semua kebahagiaan yang telah terjadi
ternyata semu
Dan kau hanyalah fatamorganaku
yang kubiarkan berlalu
Sebab aku sadar, menggapaimu adalah ketidakmampuanku

Cintaku

Dunia adalah fana
Semesta dicipta bukan untuk dinikmati saja
Jika sang pencipta sudah bicara
Semua akan sirna dalam kedipan mata

Sama seperti ketika
aku mengetahui ternyata
cintamu hanyalah semu belaka

Kau tahu;
bagaimana rasanya hati karena ulahmu?
Setelah beribu harap kulayangkan padamu
Sakitnya hingga merobek bilik jantungku

Tampaknya aku salah memberi hati pada
dirimu yang hanya singgah sementara,
bukan berniat menjadikanku rumah
Dan inilah; kenyataan yang menyesakkan dada

Pada Sebuah Tinta Seni

DATANG DAN KEMBALI
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Pada ruang paling sunyi
Aku merasakan hadirmu disini
Menemaniku, bahkan saat sendiri
Kau bawa sebongkah kenangan terperih

Aku kembali teringat perihal hati
yang telah kau sakiti
Kau tancapkan sebilah belati
tepat didadaku sebelah kiri

Cukuplah, bila kau hanya datang menghampiri;
lalu pergi lagi
Hati ini bukan untuk sembunyi;
lalu pergi lagi

Cinta yang pernah kau beri;
telah hilang ditelan sunyi
atau bahkan, kini sudah mati
dan tak akan kembali.

Jumat, 01 Juni 2018

Pada Sebuah Tinta Seni

PERIHAL PERASAAN
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Pada sunyi malam sosokmu terus membayangiku
Kuterka gambar wajahmu yang terlintas dibenakku
Kau, si pemilik senyum tipis dengan rona pipi merah berhasil memikatku
Serta tatapan tajam yang membuat tenang hatiku

Kau si pemikat senyum
Pesonamu telah memicu andrenalinku
Untuk berani berucap bahwa : aku mengagumimu

Namun lidahku terasa kaku
Perasaan takut selalu menghinggapiku
Akankah kau mengacuhkanku? atau
Kau mempunyai rasa yang sama denganku?

Entah kekagumanku ini pertanda cinta
Sebab malam selalu menjelma bayangmu
Mengetuk pintu syaraf sadarku
Agar bernyali ungkapkan satu kata

Bahwa; Aku Mencintaimu.

Pada Sebuah Tinta Seni

KITA ADALAH SATU
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Menatap indah langit kelabu
Seakan terbayang wajah indah di mataku
Sedikit rasa rindu itu kini jadi candu
Duhai kasih,
Apakah ada rindu di hatimu?

Kasih, belum cukupkah ini bagimu
Apa kau tak merasakan detak jantungku
Irama setiap hembusan napasku
Bahkan derasnya setiap aliran darahku?
Semuanya menyebut namamu; di hatiku

Duhai terkasih
Lantunanmu begitu indah
Merasuk ke dalam jiwa
Membuat diri terpaku merana
Merasakan kebahagiaan tanpa tara

Terpikir sejenak olehku
Ketika kau tak ada lagi untukku
Akan jadi seperti apa hidupku?

Oh kasihku
Begitu pun dengan aku,
Saat tak ada dirimu di sampingku,
Dunia tak lagi semanis madu

Sungguh, betapa beruntungnya diriku
bisa menggenggam hatimu
Kasihku, percayalah kita ini satu
Sebab aku dan kamu adalah cinta yang utuh
yang tak terpisahkan oleh jarak dan waktu

Dimanakah Dirimu

sesak berbilang
kau menghilang
aku melapang
namun hati masih,
saja mengenang

aku pasrah
mencoba lupa
pada relung jiwa,
tersimpan luka
belum sembuh juga

ah, sungguh nyeri rasanya
hati mendesak
meminta lapak untuk sesaat rebah
resah berlanjut pasrah
namun perihal melupa ia tetap ogah

lalu harus bagaimana
luka dalam dada masih tetap ada
mencoba menghilangkannya
tak semudah berkata; kau pasti bisa
semua butuh waktu lama.

Pada Sebuah Tinta Seni

Aku Pulang
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Pada sebuah rumah
Tak ada atap penghalang masuknya cahaya
Beberapa tembok sudah pecah
Pondasi rumahpun patah
Dalam hatinya tetaplah berteguh
Sampai matipun aku tetap merindu

Pada sebuah jalan menuju rumah
Terlintas sekelebat bayangan menyapa
Kucoba menerka,
ku kenali ia; tanpa rupa
Anganku tertuju pada kau yang jauh dimata
Beginilah, ketika rindu sedang meraba.

Pada Sebuah Tinta Seni

BIDADARI SURGA-MU
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Desir hati menanti fajar..
Indah alunan suara mu..
Engkau bangkitkan aku
Dari mimpi- mimpi buruk yg membekas
Dalam malam kemarin..

Kau bisikan alunan quran
Dengan gaya mhu sendiri...
Tanpa peci dan sarung
Bak ulama dan kaum sholeh lainnua

Tapi aku dapat merasakan
Kuat iman mu yg melilit hati .
Meski tak pernah kau ceritakan
Cerita indah tentang iman...

Wajah sederhana berkacamata ..
Tanpa peci dan sarung sulam..
Kau berkata...
Tetaplah menjadi bidadari surga ku.

Pada Sebuah Tinta Seni

SEMANGAT
Oleh Ari Kurnia Oktavian

Akankah aku terus seperti ini ?
Akankah aku terus terdiam ?
Melihat semua orang mencaci maki diriku
Membiarkan mereka terus menindasku

Memang tak seharusnya aku begini
Dan memang tak seharusnya aku lemah
Menghadapi mereka yang tak mungkin ku lawan
Adalah hal terbodoh yang mungkin aku lakukan

Biarlah orang berkata apa
Dan biarlah semua orang menganggapku rendah
Karena dimata Tuhan kita semua sama
Hanya situasi dan kondisi lah yang membedakan

Semangat ! Semangat ! Dan terus semangat
Kuatkan hati !
Teruslah melangkah maju
Jangan sampai terhenti ! Hanya karena perkara semata..

Di sini Masih Di Hati

Hanya saja aku masih mengusahakannya. Berusaha menyelematkan perasaanku sendiri. Setelah remuk redam dihantam perasaan. Entah berapa lama ak...

Belum Ada Judul