Kamis, 13 Juli 2017

Pada Sebuah Tinta Seni

IBU GURUKU TERSAYANG

Ibu Guru ... 
Kau yang telah mendidikku 
Kau yang telah menasehati ku
Dalam keadaan bingung 

Ibu Guru ... 
Engkau adalah pahlawanku 
Engkau bagaikan penyelamatku
Engkau tulus mengajariku 

Ibu Guru ... 
Terima kasih atas semua jasamu 
Aku sayang padamu 
Seperti kau menyayangiku


Oleh: Ari Kurnia Oktavian

Rabu, 12 Juli 2017

Pada Sebuah Tinta Seni

Waktu Yg Kusesali


Begitu cepat waktu berlalu
Tak terasa perjumpaan ku sudah berlalu
Sangat cepat ,Sangat menyesal ,Sangat kecewa
Teringat dalam Memori yang lalu
Menangis mengingat masa-masa yang lalu
Melukiskan canda tawa & kebahagiaan bersamamu
Sepanjang waktu berlalu
Kenapa kami baru menaruh perhatian pada Guru
Saat Guru tetah tiada
Karena di panggil oleh Sang Maha Kuasa
Begitu kejamnya kami melupakan jasa mu
Maafkan kami guru
Yang telah menggoreskan tinta hitam,di dalam hidupmu
Andaikan waktu dapat terulang 
Kami berjanji akan memberikan yang terbaik bagimu
Tangisan kami hanya untukmu
Saat kami tak mengerti,
Guru yang akan menjelaskannya
Saat kami membuat kesalahan,
Guru yang menasihatinya
Saat kami mengingatmu,
Kau telah tiada
Jasamu kan abadi bersemayam di hati kami
Begitu besar perhatianmu pada kami
Yang selama ini menyusahkanmu.
Hanya kata Terimakasih dan Maaf untukmu.

Oleh : Ari Kurnia Oktavian.


Pada Sebuah Tinta Seni

Tangan Jail Dan Air Tawar


Aroma busuk melingkup hidup.
Sempitkan paru-paru.
Tinggalkan bisu.
Arus sebarkan cemar.
Lalat terbang riang.
Hinggapi ikan-ikan yang terkapar.

Gemercik hitam menampar pemukiman.
Atap terkubur di telan lumpur.
Hujan semalam,
Buahkan lautan.
Balon-balon mengapung, antarkan pembasmi lapar.

Berjerit hati mengasakan musibah surut.

Ditengah-tengah negara yang sedang carut-marut.
Oleh : Ari Kurnia Oktavian.

Senin, 10 Juli 2017

Pada Sebuah Tinta Seni


Hujan adalah Rindu



Hujan menari dengan indahnya,
lincah, meliuk-liukkan tubuh mungilnya

mengikuti denting dawai rasa

dalam petikan romansa


Hujan bernyanyi dengan merdunya,
mesra, melagukan nada bersyairkan asa
mengiringi rasa yang bergelora
menghentak dalam dada


Hujan tersenyum membelai kalbu,
sendu, menjamah cerita kau dan aku
tentang rasa yang menggebu
bertaburan bilur rindu


Hujan adalah alunan melodi jiwa,
bait lagu cinta yang menyatukan rasa
mengobarkan angan menggebu
yang mengikat kau dan aku

Karena .. hujan adalah rindu

 Oleh : Ari Kurnia Oktavian

Pada Sebuah Tinta Seni

SEKOLAH

Kala pagi embun yang bening.
Berpalut dengan ramai dan terkadang sunyi.

Jam beker tak ayal bosan memandang rupaku.
Azan subuh ingin ku kasetkan seperti kemarin.
Hari-hari tak seperti bulan yang yang tumbuh ini

Entah mengapa aku harus dengan meja kayu yang usang ini
Aku bosan.
Inikah hadiah yang kuterima.
Ilmu – ilmu yang kau sajikan Tuan berkumis tebal.
Bagai orang yang berkerumungi mayat bekas penembakan.

Pada penghujung hari.
Bel kisah pun berdenting.

Oleh: Ari Kurnia Oktavian

Di sini Masih Di Hati

Hanya saja aku masih mengusahakannya. Berusaha menyelematkan perasaanku sendiri. Setelah remuk redam dihantam perasaan. Entah berapa lama ak...

Belum Ada Judul